hai sobat kita ketemu lagi dengan postingan baru.. kita mengetahui setiap daerah memiliki tarian adat masing-masing.tarian adat tersebut pasti penuh makna.. . sulawesi adalah salah satu bagian dari indonesia seperti yang kita ketahui indonesia sangatlah banyak memiliki taria adat.. Tetapi kali ini saya akan membahas tentang tarian adat yang populer di sulawesi.. ok.. langsung saja lihat deskripsinya di bawah ini.
Nah, dari 6 Provinsi di Sulawesi ternyata ada 7 Tarian daerah yang populer, apa saja tarian daerah sulwaesi tersebut ?
1. Tari Molulo
Tari
Molulo sebenarnya adalah tari tradisional yang berasal dari daerah
Tolaki Sulawesi Tenggara (Indonesia). Daerah tolaki adalah bekas
Kerajaan Konawe dan Mekongga yakni Kabupaten Konawe, Konawe Utara,
Konawe Selatan, Kota Kendari, dan sebagian Kabupaten Kolaka dan Kolaka
Utara.
Di
daerah-daerah tersebut menggunakan bahasa Tolaki namun dengan dua
dialek yang berbeda yakni Bahasa Tolaki Dialek Wawonii dan Bahasa Tolaki
Dialek Mekongga.
Walaupun Tari Molulo ini berasal dari daerah/suku tolaki, akan tetapi
tarian ini diminati oleh seluruh masyarakat di Sulawesi Tenggara bahkan
Sulawesi Tengah. Molulo ini hampir sama dengan modero, hanya saja kalau
dalam modero lagu harus dibawakan oleh peserta modero, akan tetapi dalam
molulo lagu berasal dari kaset/pita rekaman ataupun gong dan gendang.
Pada
zaman dahulu, molulo selalu dilaksanakan dengan menggunakan gong. Jadi
dapat dikatakan ada kelompok penari dan kelompok penabuh gendang dan
pemukul gong. Namun sayangnya, di kabupaten muna, tari molulo yang
diikuti dengan gendang dan gong sudah tidak ada lagi, sebab sudah
berganti dengan menggunakan music dangdut yang berirama disko, remix dan
irama house.
Selain menggunakan musik yang berasal dari kaset/pita rekaman, saat ini
juga molulo yang paling banyak digemari adalah musik yang berasal dari
grup band atau organ. Kadang-kadang kalau menggunakan kaset/pita rekaman
tidak banyak yang menyukainya, akan tetapi jika menggunakan organ atau music band, banyak sekali yang menggemarinya. Ini tidak hanya terjadi di Kabupaten Muna tetapi merata di Sulawesi Tenggara.
2. Tari Modero
3. Tari Pakarena

Tari Pakarena adalah tarian tradisional dari Sulawesi Selatan yang diiringi oleh 2 (dua) kepala drum (gandrang) dan sepasang instrument alat semacam suling (puik-puik). Selain tari pakarena yang selama ini dimainkan oleh maestro tari pakarena Maccoppong Daeng Rannu (alm) di kabupaten Gowa, juga ada jenis tari pakarena lain yang berasal dari Kabupaten Kepulauan Selayar yaitu “Tari Pakarena Gantarang”. Disebut sebagai Tari Pakarena Gantarang karena tarian ini berasal dari sebuah perkampungan yang merupakan pusat kerajaan di Pulau Selayar pada masa lalu yaitu Gantarang Lalang Bata. Tarian yang dimainkan oleh empat orang penari perempuan ini pertama kali ditampilkan pada abad ke 17 tepatnya tahun 1903 saat Pangali Patta Raja dinobatkan sebagai Raja di Gantarang Lalang Bata. Tidak ada data yang menyebutkan sejak kapan tarian ini ada dan siapa yang menciptakan Tari Pakarena Gantarang ini namun masyarakat meyakini bahwa Tari Pakarena Gantarang berkaitan dengan kemunculan Tumanurung. Tumanurung merupakan bidadari yang turun dari langit untuk untuk memberikan petunjuk kepada manusia di bumi. Petunjuk yang diberikan tersebut berupa symbol – simbol berupa gerakan kemudian di kenal sebagai Tari Pakarena Gantarang. Hal ini hampir senada dengan apa yang dituturkan oleh salah seorang pemain Tari Pakarena Makassar Munasih Nadjamuddin. Wanita yang sering disama Mama Muna ini mengatakan bahwa Tari Pakarena berawal dari kisah perpisahan penghuni botting langi (Negeri Kayangan) dengan penghuni lino (bumi) zaman dahulu. Sebelum berpisah, botting langi mengajarkan kepada penghuni lino mengenai tata cara hidup, bercocok tanam hingga cara berburu lewat gerakan-gerakan tangan, badan dan kaki. Gerakan inilah yang kemudian menjadi tarian ritual ketika penduduk di bumi menyampaikan rasa syukur pada penghuni langit. Tak mengherankan jika gerakan dari tarian ini sangat artistik dan sarat makna, halus bahkan sangat sulit dibedakan satu dengan yang lainnya. Tarian ini terbagi dalam 12 bagian. Setiap gerakan memiliki makna khusus. Posisi duduk, menjadi pertanda awal dan akhir Tarian Pakarena. Gerakan berputar mengikuti arah jarum jam, menunjukkan siklus kehidupan manusia. Sementara gerakan naik turun, tak ubahnya cermin irama kehidupan. Aturan mainnya, seorang penari Pakarena tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar. Demikian pula dengan gerakan kaki, tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Hal ini berlaku sepanjang tarian berlangsung yang memakan waktu sekitar dua jam. Tari Pakarena Gantarang diiringi alat music berupa gendang, kannong-kannong, gong, kancing dan pui-pui. Sedangkan kostum dari penarinya adalah, baju pahang (tenunan tangan), lipa’ sa’be (sarung sutra khas Sulawesi Selatan), dan perhiasan-perhiasan khas Kabupaten Selayar. Tahun 2007, Tari Pakarena Gantarang mewakili Sulawesi Selatan dan Indonesia pada Acara Jembatan Budaya 2007 Indonesia–Malaysia di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC).
4. Tari Patududu

Sulawesi Barat atau disingkat Sul-Bar termasuk provinsi yang masih tergolong baru di Pulau Sulawesi, Indonesia. Provinsi yang dibentuk pada tanggal 5 Oktober ini sebagian besar dihuni oleh suku Mandar (49,15%) dibanding dengan suku-bangsa lainnya seperti Toraja (13,95%), Bugis (10,79%), Jawa (5,38%), Makassar (1,59%) dan lainnya (19,15%). Maka tidak heran jika adat dan tradisi suku Mandar lebih berkembang di daerah ini. Salah satu tradisi orang Mandar yang sangat terkenal adalah tradisi penjemputan tamu-tamu kehormatan baik dari dalam maupun luar negeri.
Penyambutan tamu kehormatan tersebut sedikit berbeda dari daerah lainnya. Para tamu kehormatan tidak hanya disambut dengan pagar ayu
atau pengalungan bunga, tetapi juga dengan Tari Patuddu. Zaman
sekarang, tarian ini biasanya dimainkan oleh anak-anak Sekolah Dasar
(SD) dengan menggunakan alat tombak dan perisai yang kemudian diiringi
irama gendang. Oleh karena itu, Tari Patuddu yang memperagakan tombak
dan perisai ini disebut juga tari perang. Disebut demikian karena
sejarah tarian ini memang untuk menyambut balatentara Kerajaan Balanipa
yang baru saja pulang dari berperang.
Menurut
sebagian masyarakat setempat, Tari Patuddu ini lahir karena sering
terjadi huru-hara dan peperangan antara balatentara Kerajaan Balanipa
dan Kerajaan Passokorang pada masa lalu. Setiap kali pasukan perang
pulang, warga kampung melakukan penyambutan dengan tarian Patuddu.
Tarian ini menyiratkan makna, “Telah datang para pejuang dan pahlawan
negeri,” sehingga tari Patuddu cocok dipentaskan untuk menyambut para
tamu istimewa hingga saat ini.
Namun,
ada versi lain yang diceritakan dalam sebuah cerita rakyat terkait
dengan asal-mula tari Patuddu. Konon, pada zaman dahulu kala, di sebuah
daerah pegunungan di Sulawesi Selatan (kini Sulawesi Barat), hidup
seorang Anak Raja bersama hambanya. Suatu waktu, Anak Raja itu ditimpa
sebuah musibah. Bunga-bunga dan buah-buahan di tamannya hilang entah ke
mana dan tidak tahu siapa yang mengambilnya. Ia pun berniat untuk
mencari tahu siapa pencurinya. Dapatkah Anak Raja itu mengetahui dan
menangkap si pencuri? Siapa sebenarnya yang telah mencuri buah dan
bunga-bunganya tersebut? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisah
selengkapnya dalam cerita Asal-Mula Tari Patuddu berikut ini!
Alkisah,
pada zaman dahulu, di daerah Mandar Sulawesi Barat, hiduplah seorang
Anak Raja di sebuah pegunungan. Di sana ia tinggal di sebuah istana
megah yang dikelilingi oleh taman bunga dan buah yang sangat indah. Di
dalam taman itu terdapat sebuah kolam permandian yang bersih dan sangat
jernih airnya.
Pada
suatu hari, saat gerimis tampak pelangi di atas rumah Anak Raja.
Kemudian tercium aroma harum semerbak. Si Anak Raja mencari-cari asal
bau itu. Ia memasuki setiap ruangan di dalam rumahnya. Namun, asal
aroma harum semerbak itu tidak ditemukannya. Oleh karena penasaran
dengan aroma itu, ia terus mencari asalnya sampai ke halaman rumah.
Sesampai di taman, aroma yan dicari itu tak juga ia temukan. Justru, ia
sangat terkejut dan kesal, karena buah dan bunga-bunganya banyak yang
hilang. “Siapa pun pencurinya, aku akan menangkap dan menghukumnya!”
setengah berseru Anak Raja itu berkata dengan geram. Ia kemudian
berniat untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang telah berani mencuri
bunga-bunga dan buahnya tersebut.
Suatu
sore, si Anak Raja sengaja bersembunyi untuk mengintai pencuri bunga
dan buah di tamannya. Tak lama, muncullah pelangi warna-warni yang
disusul tujuh ekor merpati terbang berputar-putar dengan indahnya. Anak
Raja terus mengamati tujuh ekor merpati itu. Tanpa diduganya, tiba-tiba
tujuh ekor merpati itu menjelma menjadi tujuh bidadari cantik. Rupanya
mereka hendak mandi-mandi di kolam Anak Raja. Sebelum masuk ke dalam
kolam, mereka bermain-main sambil memetik bunga dan buah sesuka
hatinya.
Anak
Raja terpesona melihat kencantikan ketujuh bidadari itu. ”Ya Tuhan!
Mimpikah aku ini? Cantik sekali gadis-gadis itu,” gumam Anak Raja
dengan kagum. Kemudian timbul keinginannya untuk memperistri salah
seorang bidadari itu. Namun, ia masih bingung bagaimana cara
mendapatkannya. ”Mmm...aku tahu caranya. Aku akan mengambil salah satu
selendang mereka yang tergeletak di pinggir kolam itu,” pikir Anak Raja
sambil mengangguk-angguk.
Sambil
menunggu waktu yang tepat, ia terus mengamati ketujuh bidadari itu.
Mereka sedang asyik bermain sambil memetik bunga dan buah sesuka
hatinya. Mereka terlihat bersendau-gurau dengan riang. Saat itulah, si
Anak Raja memanfaatkan kesempatan. Dengan hati-hati, ia berjalan
mengendap-endap dan mengambil selendang miliki salah seorang dari
ketujuh bidadari itu, lalu disembunyikannya. Setelah itu, ia kembali
mengamati para bidadari yang masih mandi di kolam.
Setelah
puas mandi dan bermain-main, ketujuh bidadari itu mengenakan
selendangnya kembali. Mereka harus kembali ke Kahyangan sebelum pelangi
menghilang. Pelangi adalah satu-satunya jalan kembali ke Kahyangan.
Namun Bidadari Bungsu tidak menemukan selendangnya. Ia pun tampak
kebingungan mencari selendangnya. Keenam bidadari lainnya turut
membantu mencari selendang adiknya. Sayangnya, selendang itu tetap
tidak ditemukan. Padahal pelangi akan segera menghilang.
Akhirnya
keenam bidadari itu meninggalkan si Bungsu seorang diri. Bidadari
Bungsu pun menangis sedih. “Ya Dewa Agung, siapa pun yang menolongku,
bila laki-laki akan kujadikan suamiku dan bila perempuan akan kujadikan
saudara!” seru Bidadari Bungsu. Tak lama berseru demikian, terdengar
suara halilintar menggelegar. Pertanda sumpah itu didengar oleh para
Dewa.
Melihat Bidadari Bungsu tinggal sendirian, Anak Raja pun keluar dari persembunyiannya, lalu menghampirinya.
”Hai, gadis cantik! Kamu siapa? Mengapa kamu menangis?” tanya Anak Raja pura-pura tidak tahu.
”Aku Kencana, Tuan! Aku tidak bisa pulang ke Kahyangan, karena selendangku hilang,” jawab Bidadari Bungsu.
”Kalau begitu, tinggallah bersamaku. Aku belum berkeluarga,” kata Anak Raja seraya bertanya, ”Maukah kamu menjadi istriku?”
Sebenarnya
Kencana sangat ingin kembali ke Kahyangan, namun selendangnya tidak ia
temukan, dan pelangi pun telah hilang. Sesuai dengan janjinya, ia pun
bersedia menikah dengan Anak Raja yang telah menolongnya itu. Akhirnya,
Kencana tinggal dan hidup bahagia bersama dengan Anak Raja.
Beberapa
tahun kemudian. Kencana dan Anak Raja dikaruniai seorang anak
laki-laki. Maka semakin lengkaplah kebahagiaan mereka. Mereka mengasuh
anak itu dengan penuh perhatian dan kasih-sayang. Selain mengasuh dan
mendidik anak, Kencana juga sangat rajin membersihkan rumah.
Pada
suatu hari, Kencana membersihkan kamar di rumah suaminya. Tanpa
sengaja ia menemukan selendang miliknya yang dulu hilang. Ia sangat
terkejut, karena ia tidak pernah menduga jika yang mencuri selendangnya
itu adalah suaminya sendiri. Ia merasa kecewa dengan perbuatan suaminya
itu. Karena sudah menemukan selendangnya, Kencana pun berniat untuk
pulang ke Kahyangan.
Saat
suaminya pulang, Kencana menyerahkan anaknya dan berkata, ”Suamiku,
aku sudah menemukan selendangku. Aku harus kembali ke Kahyangan menemui
keluargaku. Bila kalian merindukanku, pergilah melihat pelangi!”
Saat
ada pelangi, Kencana pun terbang ke angkasa dengan mengipas-ngipaskan
selendangnya menyusuri pelangi itu. Maka tinggallah Anak Raja bersama
anaknya di bumi. Setiap ada pelangi muncul, mereka pun memandang
pelangi itu untuk melepaskan kerinduan mereka kepada Kencana. Kemudian
oleh mayarakat setempat, pendukung cerita ini, gerakan Kencana
mengipas-ngipaskan selendangnya itu diabadikan ke dalam gerakan-gerakan
Tari Patuddu, salah satu tarian dari daerah Mandar, Sulawesi Barat.
Cerita
rakyat di atas termasuk ke dalam cerita teladan yang mengandung
pesan-pesan moral. Salah satu pesan moral yang terkandung di dalamnya
adalah anjuran meninggalkan sifat suka mengambil barang milik orang
lain. Sifat yang tercermin pada perilaku ketujuh bidadari dan Anak Raja
tersebut sebaiknya dihindari. Ketujuh bidadari telah mengambil
bunga-bunga dan buah-buahan milik si Anak Raja tanpa sepengetahuannya.
Demikian pula si Anak Raja yang telah mengambil selendang salah seorang
bidadari tanpa sepengetahuan mereka, sehingga salah seorang bidadari
tidak bisa kembali ke Kahyangan. Sebaliknya, Anak Raja harus ditinggal
pergi oleh istrinya, Bidadari Bungsu, ketika si Bungsu menemukan
selendangnya yang telah dicuri oleh suaminya itu. Itulah akibat dari
perbuatan yang tidak dianjurkan ini.
Mengambil
hak milik orang lain adalah termasuk sifat tercela. Bahkan dalam
ajaran sebuah agama disebutkan, mengambil dan memakan harta orang lain
dengan cara semena-mena, sama artinya dengan memakan harta yang haram.
Ada banyak cara yang dilakukan oleh seseorang untuk mengambil dan
memakan harta orang lain secara tidak halal, di antaranya mencuri,
merampas, menipu, kemenangan judi, uang suap, jual beli barang yang
terlarang dan riba. Kecuali yang dihalalkan adalah pengambilan dan
pertukaran harta dengan jalan perniagaan dan jual-beli yang dilakukan
suka sama suka antara si penjual dan si pembeli, tanpa ada penipuan di
dalamnya.
Setiap
agama menganjurkan kepada umatnya agar senantiasa menjunjung tinggi,
mengakui dan melindungi hak milik orang lain, asal harta tersebut
diperoleh dengan cara yang halal. Oleh karena itu, hendaknya jangan
memakan dan mengambil harta orang lain dengan jalan yang tidak halal.
Tari
Saronde adalah tari pergaulan keakraban dalam acara pertunangan. Tari
pergaulan keakraban dalam acara resmi pertunangan di Gorontalo. Tarian
ini diangkat dari tari adat malam pertunangan pada upacara adat
perkawinan daerah Gorontalo. Tarian ini dilakukan di hadapan calon
mempelai wanita. Tentu penarinya adalah calon mempelai laki-laki bersama
orang tua atau walinya. Ini adalah cara orang Gorontalo menjenguk atau
mengintip calon pasangan hidupnya.
Dalam bahasa Gorontalo, tarian ini adalah sarana molihe huali yang
berarti menengok atau mengintip calon istri. Setelah melalui serangkaian
prosesi adat, calon mempelai pria kemudian mulai menari Saronde bersama
ayah atau wali. Mereka menari dengan selendang. Saronde sendiri terdiri
dari musik dan tari dalam bentuk penyajiannya. Musik mengiringi tarian
Saronde dengan tabuhan rebana dan nyanyian vokal, diawali dengan tempo
lambat yang semakin lama semakin cepat. Iringan rebana yang sederhana
merupakan bentuk musik yang sangat akrab bagi masyarakat Gorontalo yang
kental dengan nuansa religius.
Dengan tarian ini calon mempelai pria mencuri – curi pandang untuk
melihat calonnya. Tari Saronde dipengaruhi secara kuat oleh agama Islam.
Saronde dimulai dengan ditandai pemukulan rebana diiringi dengan lagu
Tulunani yang disusun syair-syairnya dalam bahasa Arab yang juga
merupakan lantunan doa – doa untuk keselamatan.
Sementara calon mempelai wanita berada di dalam kamar dan memperhatikan
pujaan hatinya dari kejauhan atau dari kamar. Menampakkan sedikit
dirinya agar calon mempelai pria tahu bahwa ia mendapat perhatian.
Sesekali dalam tariannya ia berusaha mencuri pandang ke arah calon
mempelai wanita. Dalam penyajiannya, pengantin diharuskan menari,
demikian juga dengan orang yang diminta untuk menari ketika dikalungkan
selendang oleh pengantin dan para penari.
Seiring berjalannya waktu kini muncul tarian modern baru yang di sebut DANCA. Tarian modern Danca ( Dana - dana cha cha) adalah kolaborasi tarian
tradisional dengan tarian modern. Sebab tarian Dana-dana Cacha hanyalah
hasil kreatifitas masyarakat modern Gorontalo yang menggabungkan Tarian
Dana-dana dengan Gerak dan Lagu yang bergenre Cha-cha.
6. Pato-pato
Pato
- pato adalah sebuah kesenian tradisional asli bumi Sulawesi Utara.
Pato-Pato atau yang juga dikenal dengan istilah Masamper adalah sebuah
seni menyanyi dan menari khas masyarakat suku Sanger, Sulawesi Utara.
Lagu yang dibawakan tidak hanya melulu bercerita tentang hubungan
manusia dengan manusia tapi juga bercerita tentang hubungan manusia
dengan Tuhannya bahkan hubungan manusia dengan alam sekitar. Kesenian
Pato-Pato umumnya dibawakan dalam acara seperti upacara adat, perayaan
hari raya keagamaan, pesta pernikahan, dan hari ulang tahun. Untuk
terlibat dalam kesenian ini, kita dituntut untuk bisa bernyanyi dan
menari dengan lincah. Seperti halnya Poco-Poco, Pato-Pato juga harus
dibawakan secara berkelompok. Namun bedanya dalam setiap kelompok
Pato-Pato memiliki seorang pemimpin yang dipanggil ‘Pangantaseng’, ia
bertugas memberikan aba-aba kepada anggota-anggota yang lain, gerakan
dan lagu apa yang akan dibawakan. Sebagai catatan, peserta kesenian ini
diwajibkan menguasai banyak lagu Pato-Pato atau Masamper sekaligus
karena kesenian ini dibawakan secara estafet atau nonstop.
Di
Sulawesi Utara, kesenian daerah tradisional ini masih terpelihara
dengan baik. Banyak event lokal yang dimeriahkan dengan atraksi menarik
rentak tari dan lagu Pato-Pato, sebut saja ajang pesta rakyat yang rutin
dilakukan setiap tahun dalam rangka memperingati haru ulang tahun kota.
Selain itu, pada setiap hari Natal atau Tahun Baru ada semacam tradisi
yang masih dilakukan sampai sekarang, yaitu berkunjung ke rumah-rumah
yang dilakukan oleh kelompok kesenian Masamper. Di setiap rumah yang
disinggahi, kelompok tersebut akan membawakan setidaknya lima buah lagu
Pato-Pato dengan gerak tari yang juga berbeda-beda yang sering
mengundang gelak tawa dari penghuni rumah dan siapa saja yang
melihatnya.
7. Poco-poco
Balenggang pata pata
Ngana pe goyang pica pica
Ngana pe bodi poco-poco ......
Kalimat
di atas adalah penggalan lirik sebuah lagu fenomenal berjudul
Poco-Poco. Lagu ini sangat popular tidak hanya di kalangan masyarakat
kawanua (istilah untuk orang-orang yang berasal dari Sulawesi Utara)
tapi juga di seantero nusantara bahkan katanya gemanya telah sampai ke
manca negara. Lagu ini memiliki rentak ceria dengan irama seperti
cha-cha dan selalu diiringi dengan gerakan menyerupai senam seperti line
dance yang umum dibawakan oleh para cowboy dan cowgirl dari negeri
Paman Sam. Kini gerakan senam yang selalu dibawakan secara berkelompok
ini lebih dikenal dengan nama dansa Poco-Poco. Banyak orang bertanya
dari mana asal Poco-Poco dan jika mendengar dari lagunya saja, pasti
mereka akan berpikir bahwa Poco-Poco berasal dari Manado, Sulawesi
Utara.
Kalau dilihat dari bahasa yang dipakai pada lirik lagunya memang
menggunakan Bahasa Manado sehingga pasti orang akan berpikir bahwa
Poco-Poco asalnya dari sana. Bahkan sebagian orang kawanua pun mengklaim
bahwa Poco-Poco memang berasal dari tanah kelahiran mereka. Namun
sepertinya tidak banyak yang menyadari bahwa lagu ini bukan diciptakan
oleh seorang Manado. Lagu ini diciptakan oleh seorang Ambon bernama Arie
Sapulette dan juga dinyanyikan/dipopulerkan oleh penyanyi Ambon bernama
Yoppy Latul. Sedangkan dansa Poco-Poco sendiri, gerakan dasarnya
diambil dari tarian tradisional Maluku bernama Wayase atau Maku-Maku.
Cukup sekian postingan kali ini. semoga bermanfaat bai sobat sobat...





Tidak ada komentar:
Posting Komentar